Nilai akidah dalam kehidupan pribadi dan sosial
Nilai-nilai dalam kehidupan pribadi dan
sosial. Nilai dalam kehidupan tentunya telah diatur sedemikian rupa oleh
masyarakat itu sendiri sehingga masyarakat mengerti akan ketetapan dan
batas-batas dalam bersikap terhadap sesama dan lingkungannya
Aqidah dapat mengendalikan perasaan seseorang
yang kemudian membuat pemilik perasaan-perasaan itu memiliki pertimbangan penuh
dalam melakukan tindakan-tindakannya. Sehingga apa yang kita lakukan adalah
perbuatan yang berdasarkan pada kaidah bahwa Allah melihat dan mengamati kita
di mana saja dan kapan saja. Hal ini akan membuat kita tidak akan terdorong
oleh luapan-luapan perasaan atau tindakan yang melampaui batas-batas ketentuan
Allah. Salah satunya tercermin dengan bersikap bijaksana dalam berperilaku dan
interaksi sosialnya.
Tanpa aqidah, masyarakat akan berubah menjadi
masyarakat Jahiliyah yang diwarnai oleh kekacauan dimana-mana, masyarakat
tersebut akan diliputi oleh perasaan ketakutan dan kecemasan di berbagai
penjuru, karena masyarakatnya menjadi berprilaku liar dan buas. Yang ada di
benak mereka hanyalah perbuatan buruk yang menghancurkan.
Adapun aqidah yang seharusnya tegak pada masyarakat Islam
yaitu aqidah "Laa ilaaha illallah Muhammadan Rasuulullah." Makna dari
ungkapan tersebut adalah bahwa masyarakat Islam benar-benar memuliakan dan
menghargai aqidah itu dan juga berusaha untuk memperkuat aqidah tersebut
didalam akal maupun hati. Masyarakat itu juga mendidik generasi Islam untuk
memiliki aqidah tersebut serta berusaha menghalau pemikiran-pemikiran yang
tidak benar dan syubhat yang menyesatkan. Masyarakat tersebut juga berupaya
menampakkan (memperjelas) keutamaan-keutamaan aqidah dan pengaruhnya dalam
kehidupan individu maupun sosial dengan perantara dari sarana alat komunikasi
yang berpengaruh dalam masyarakat, seperti masjid-masjid, sekolah-sekolah,
surat-surat kabar, radio, televisi, sandiwara, bioskop dan seni dalam segala
bidang, seperti puisi. prosa, kisah-kisah dan teater. Yang nantinya diharapkan
dapat diserap dengan lebih baik oleh mereka yang menerimanya.
Demikianlah aqidah dan pengaruhnya dalam kehidupan
masyarakat dan demikianlah hendaknya pengaruh aqidah dalam setiap masyarakat
yang menginginkan menjadi masyarakat Islam, saat ini dan di masa yang akan
datang.
Sesungguhnya aqidah Islamiyah dengan segala rukun dan
karakteristiknya adalah merupakan dasar yang kokoh untuk membangun masyarakat
yang kuat, karena itu bangunan yang tidak tegak di atas aqidah Islamiyah maka
sama dengan membangun di atas pasir yang mudah runtuh.
Begitulah
nilai-nilai aqidah dalam kehidupan pribadi dan sosial yang mengandung
nilai-nilai kebenaran, keyakinan serta ketaatan. Yang merupakan nilai-nilai
yang akan membentuk pribadi yang baik, bijak dan bermanfaat untuk lingkungannya
sehingga nanti secara otomatis dapat menciptakan masyarakat yang rukun yang
berakhlak mulia serta bermanfaat.
Nilai akidah dalam iptek
Keutuhan antara iman, ilmu dan amal atau syariah dan
akhlak dapat dilakukan dengan menganalogikan dinul Islam bagaikan sebatang
pohon yang baik. Ini merupakan gambaran bahwa antara iman, ilmu dan amal merupakan
suatu kesatuan yang utuh tidak dapat dipisahkan antara satu sama lain. Iman
diidentikkan dengan akar dari sebuah pohon yang menupang tegaknya ajaran Islam,
ilmu bagaikan batang pohon yang mengeluarkan dahan. Dahan dan cabang-cabang
ilmu pengetahuan. Sedangkan amal ibarat buah dari pohon itu seperti seni
budaya, filsafat, dan Iptek yang dikembangkan di atas nilai-nilai iman dan ilmu
akan menghasilkan amal shaleh bukan kerusakan alam.
Pengetahuan adalah segala sesuatu yang diketahui manusia melalui
tangkapan pancaindera, ilustrasi dan firasat, sedangkan ilmu adalah pengetahuan
yang telah diklasifikasi, diorganisasi, disistematisasi dan diinterpretasikan
sehingga menghasilkan kebenaran obyektif, telah diuji kebenarannya dan dapat
diuji ulang secara ilmiah. Dalam kajian filsafat setiap ilmu membatasi diri
pada salah satu bidang kajian. Karena seseorang yang memperdalam ilmu tertentu
disebut sebagai spesialis, sedangkan orang yang banyak tahu tapi tidak
memperdalam disebut generalis. Dengan keterbatasan kemampuan manusia, maka
sangat jarang ditemukan orang yang menguasai beberapa ilmu secara mendalam.
Istilah teknologi merupakan produk ilmu pengetahuan dalam sudut pandang
budaya dan teknologi merupakan salah satu unsur budaya sebagai hasil penerapan
praktis dari ilmu pengetahuan. Meskipun pada dasarnya teknologi juga memiliki
karakteristik obyektif dan netral, akan tetapi dalam situasi seperti ini
teknologi tidak netral lagi karena memiliki potensi yang merusak dan potensi
kekuasaan, disitulah letak perbedaan antara ilmu pengetahuan dan teknologi.
Teknologi dapat membawa dampak positif berupa kemajuan dan kesejahteraan
bagi manusia juga sebaliknya dapat membawa dampak negatif berupa
ketimpang-ketimpangan dalam kehidupan manusia dan lingkungan. Netralitas
teknologi dapat digunakan untuk yang memanfaatkan yang sebesar-besarnya bagi
kehidupan manusia atau digunakan untuk menghancurkan manusia itu sendiri. Seni
adalah hasil ungkapan akal dan budi manusia dengan segala prosesnya, seni juga
merupakan ekspresi jiwa seseorang kemudian hasil ekspresi jiwa tersebut dapat
berkembang menjadi bagian dari budaya manusia, karena seni itu diidentik dengan
keindahan.
Seni yang lepas dari nilai-nilai keutuhan tidak akan abadi karena ukurannya
adalah nafsu bukan akal dan budi. Seni mempunyai daya tarik yang selalu
bertambah bagi orang-orang yang kematangan jiwanya terus bertambah.
2.4.1 Sumber ilmu pengetahuan
Dalam pemikiran Islam ada dua sumber ilmu yaitu cikal dan wahyu. Keduanya
tidak boleh ditentangkan, karena manusia diberi kebebasan dalam mengembangkan
akal budinya berdasarkan tuntutan al-Qur’an dan sunnah rasul. Atas dasar itu,
ilmu dalam pemikiran Islam ada yang bersifat abadi (perennial knowledge) dan
tingkat kebenarannya bersifat mutlak (absolute) karena bersumber dari wahyu
Allah dan ilmu yang bersifat perolehan (aquired knowledge) tingkat kebenarannya
bersifat nisbi (relative) karena bersumber dari akal pikiran manusia.
Prestasi yang gemilang dalam pengembangan IPTEKS pada hakikatnya tidak
lebih dari sekedar menemukan proses sunnatullah itu terjadi di alam ini, bukan
merencanakan dan menciptakan suatu hukum baru diluar sunnahtullah (hukum
Allah/hukum alam).
Interaksi iman, ilmu
dan amal
Dalam pandangan Islam, antara agama, ilmu pengetahuan, teknologi dan seni
terdapat hubungan yang harmonis dan dinamis yang terinteraksi ke dalam suatu
sistem yang disebut dinul Islam, didalamnya terkandung tiga unsur pokok yaitu
akidah, syariah, dan akhlak dengan kata lain iman, ilmu dan amal shaleh.
Islam merupakan ajaran agama yang sempurna, karena kesempurnaannya dapat
tergambar dalam keutuhan inti ajarannya. Di dalam al-Qur’an dinyatakan yang
artinya “Tidaklah kamu memperhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan
kalimat yang baik (dinul Islam) seperti sebatang pohon yang baik, akarnya kokoh
(menghujam kebumi) dan cabangnya menjulang ke langit, pohon itu mengeluarkan
buahnya setiap muslim dengan seizin Tuhannya. Allah membuat
perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia agar mereka ingat”.
Upaya yang dapat dilakukan untuk memperkokoh aqidah dapat dilakukan dengan
memahami al-Qur’an sehingga pemahaman kita tentang syariah, ibadah dan menambah
keyakinan kepada Allah. Kita juga harus mengimani hari kiamat dan selalu
mengingatnya sehingga kita akan selalu berusah melakukan amal terbai dan rajin
berdzikir kepada Allah. Selain itu kita harus selalu mengingat Allah,
bermunajad pada-Nya dan berusaha meninggalkan kehinaan dunia.